Asesmen Perkembangan Anak Usia Dini

Asesmen merupakan kegiatan harian guru, yang ia laksanakan setiap hari, hari demi hari selama proses pembelajaran berlangsung. Tidak ada bentuk tanggungjawab guru lainnya yang lebih penting dibandingkan dengan melakukan asesmen pada anak. Guru harus dapat mengkomunikasikan performa akademik dan performa sosial siswa serta kemajuan atau pertumbuhannya kepada berbagai pihak yang terkait meliputi anak, orang tua anak, sekolah dan administrator pendidikan, serta masyarakat umum.

Asesmen dan keputusan-keputusan evaluatif yang dihasilkannya haruslah akurat sehingga mampu mencegah pemahaman dan komunikasi yang keliru oleh pihak-pihak terkait. Oleh karenanya diperlukan berbagai jenis asesmen yang secara bersama-sama akan menghasilkan informasi evaluatif yang lengkap dan akurat. Selain itu, pendidik juga menginginkan informasi tentang cara atau metode yang sudah digunakannya dalam proses pembelajaran. Proses penilaian, bagi pendidik, dapat menjadi sebagai tolak ukur keberhasilan proses pembelajaran. Hasil penilaian dapat dijadikan sebagai umpan balik bagi pendidik untuk secara arif memperbaiki proses pembelajaran yang telah dilakukan.

Urgensi asesmen pada perkembangan anak usia dini memiliki kontribusi yang besar terhadap salah satu bagian ilmu asesmen yang mengkaji tentang perkembangan anak. Laporan perkembangan anak tidak hanya terbatas pada penilaian semata, lebih jauh daripada itu pada dasarnya menggunakan prinsip dasar pelaporan asesmen perkembangan pada anak. Laporan asesmen memiliki cakupan yang sangat luas. Di dalam laporan asesmen terdapat perencanaan, implementasi pembelajaran, penilaian, dan evaluasi yang berkaitan erat dengan perkembangan anak.

Bonnie Campbell Hill & Cynthia Ruptic (1994). “Assessment is the process of gathering evidence and documenting a child’s lerning and growth”. Penilaian adalah proses mengumpulkan peristiwa dan mendokumentasikan pertumbuhan dan pembelajaran anak. Asesmen adalah proses mengumpulkan informasi tentang siswa dan kelas untuk maksud-maksud pengambilan keputusan instruksional (Arends, 2008) . Menurut Suharsimi Arikunto (2009) penilaian adalah mengambil suatu keputusan terhadap sesuatu dengan ukuran baik buruk. 

Berdasarkan hal di atas, maka dapat dikatakan bahwa asesmen adalah proses mengumpulkan informasi tentang objek (murid) dengan menggunakan alat dan teknik yang sesuai untuk membuat penilaian atau keputusan mengenai objek tersebut. Berdasarkan kesimpulan definisi asesmen tersebut, maka untuk melakukan asesmen diperlukan suatu alat atau instrumen dan teknik sebagai pengumpul informasi dan pertimbangan penilaian mengenai objek.

Chittenden dalam Arfin Zainal (2009) mengemukakan tujuan asesmen, antara lain:

  1. Keeping  Track 

Yaitu untuk menelusuri dan melacak proses belajar peserta didik sesuai dengan rencana pelaksanaan pembelajaran yang telah ditetapkan. Untuk itu, guru harus mengumpulkan data dan informasi dalam kurun waktu tertentu melalui berbagai jenis dan teknik penilaian untuk memperoleh gambaran tentang pencapaian kemajuan belajar peserta didik.

  • Checkingup

Yaitu untuk mengecek ketercapaian kemampuan peserta didik dalam proses pembelajaan dan kekurangan-kekurangan peserta didik selama mengikuti proses pembelajaran. Dengan kata lain, guru perlu melakukan  penilaian untuk mengetahui bagian mana dari materi yang sudah dikuasai  peserta didik dan bagian mana dari materi yang belum dikuasai.

  • Findingout

Yaitu untuk mencari, menemukan dan mendeteksi kekurangan kesalahan atau kelemahan peserta didik dalam proses pembelajaran, sehingga guru dapat dengan cepat mencari alternatif solusinya.

  • Summingup

Yaitu untuk menyimpulkan tingkat penguasaan peserta didik terhadap kompetensi yang telah ditetapkan. Hasil penyimpulan ini dapat digunakan guru untuk menyusun laporan kemajuan belajar ke berbagai pihak yang berkepentingan.

Dalam  merancang  suatu penilaian  pembelajaran perlu  diperhatikan prinsip-prinsip sebagai berikut (Anita Yus, 2011):

  1. Prinsip integral dan komprehensif

Yaitu penilaian dilakukan secara utuh dan menye luruh terhadap semua aspek pembelajaran, baik pengetahuan, keterampilan, maupun sikap dan niilai.

  • Prinsip  kesinambungan 

Yaitu penilaian dilakukan secara berencana, terus menerus dan bertahap untuk memperoleh gambaran tentang perkembangan tingkah laku peserta didik sebagai hasiil dari kegiatan belajar. Untuk memenuhi prinsip ini, kegiatan penilaian harus sudah direncanakan bersamaan dengan kegiatan penyusunan program semester dan dilaksanakan sesuai dengan program yang telah disusun.

  • Prinsip  objektif

Yaitu penilaian dilakukan dengan menggunakan alat ukur yang handal dan dilaksanakan secara objektif sehingga dapat menggambarkan kemampuan yang diukur.

  • Mendidik

Proses dan hasil asesmen dapat dijadikan dasar untuk memotivasi,mengembangkan dan membina anak agar tumbuh dan berkembang secara optimal.

  • Kebermaknaan

Hasil asesmen harus mempunyai arti dan bermanfaat bagi guru, orang tua, anak didik, dan pihak lain.

Beberapa hal yang menjadi prinsip dalam penilaian adalah (Kusaeri dan Suprananto, 2012):

  1. Proses penilaian harus merupakan bagian yang tak terpisahkan dari proses pembelajaran, bukan bagian terpisah dari proses pembelajaran (part of, not a part from instruction)
  2. Penilaian harus mencerminkan masalah dunia nyata (real world problem), bukan dunia sekolah (school work-kind problems);
  3. Penilaian harus menggunakan berbagai ukuran, metode, dan kriteria yang sesuai dengan karakteristik dan esensi pengalaman belajar; dan
  4. Penilaian harus bersifat holistik yang mencakup semua aspek dari tujuan pembelajaran (kognitif, afektif, dan sensori-motorik).

Konsep dasar asesmen perkembangan anak berkaitan dengan asesmen, ada beberapa istilah yang harus dijelaskan perbedaaanya karena istilah tersebut memiliki pengertian yang berbeda, namun masih sering dicampuradukkan. Ada empat istilah yang harus dibedakan maknanya, yaitu asesmen, evaluasi, pengukuran dan tes.

Asesmen didefinisikan sebagai proses untuk mendapatkan informasi dalam bentuk apapun yang dapat digunakan sebagai dasar pengambilan keputusan (Poerwanti, dkk., 2009). Proses asesmen meliputi pengumpulan informasi tentang pencapaian perkembangan belajar anak, kurikulum, program dan kebijakan (Suratno, dkk., 2021). Informasi dalam kegiatan asesmen dapat diperoleh melalui berbagai metode, seperti penilaian unjuk kerja (Performance Assessment), asesmen melalui kumpulan hasil kerja anak (portofolio), observasi, anecdotal record, pemberian tugas, dan percakapan (wawancara).

Asesmen merupakan bagian integral dari proses belajar mengajar, kegiatan asesmen harus dipahami sebagai kegiatan untuk mengefektifkan proses belajar mengajar agar sesuai dengan yang diharapkan. Menurut Aiken, secara umum asesmen bertujuan untuk memperoleh umpan balik dari kegiatan yang telah dilaksanakan, sebagai informasi untuk melaksanakan kegiatan berikutnya (Mulyasa, 2012).

Tujuan asesmen adalah untuk mengidentifikasi masalah perkembangan anak, untuk mendukung dan mengawasi pembelajaran, untuk mengidentifikasi bagian yang membutuhkan dukungan perkembangan dan perhatian, dan untuk mengevaluasi program (Krogh, 2001). Senada dengan pendapat tersebut, Jones menyatakan tujuan asesmen adalah untuk mendukung pembelajaran, untuk mengidentifikasi kebutuhan khusus, dan untuk mengevaluasi program (Mukminan, 2003). Asesmen digunakan untuk beragam tujuan sebagai berikut (Frindani Lara, dkk., 2011):

  1. Untuk mengetahui berbagai aspek perkembangan anak, yaitu fisik motorik, kognitif, bahasa, sosio emosional, dan sebagainya.
  2. Untuk mendiagnosa dan mengidentifikasi hambatan perkembangan dan penyebab masalah belajar pada anak sehingga dapat mencari cara untuk memperbaiki masalah perkembangan dan masalah belajar anak.
  3. Untuk menempatkan anak pada program yang tepat.
  4. Untuk mengetahui apakah anak membutuhkan pelayanan khusus.
  5. Untuk membuat perencanaan program dan untuk kepentingan kajian penelitian.

Berdasarkan beberapa pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa tujuan asesmen perkembangan belajar adalah:

  1. Untuk memperoleh umpan balik dari kegiatan yang telah dilaksanakan, sebagai informasi untuk melaksanakan kegiatan berikutnya.
  2. Untuk mengetahui berbagai aspek perkembangan anak, yaitu fisik motorik, kognitif, bahasa, sosio emosional, dan sebagainya.
  3. Untuk mendiagnosa dan mengidentifikasi hambatan perkembangan dan penyebab masalah belajar pada anak sehingga dapat mencari
  4. cara untuk memperbaiki masalah perkembangan dan masalah belajar anak.
  5. Untuk mengetahui apakah anak membutuhkan pelayanan khusus dan menempatkan anak pada program yang tepat.
  6. Untuk memastikan pembelajaran yang dilakukan responsif dan tepat, sesuai dengan apa yang bisa dan tidak bisa dilakukan oleh anak, dan
  7. Sebagai bahan dasar untuk dilaporkan kepada orang tua.

Asesmen digunakan untuk kebutuhan anak. Anita Yus (2011) menyatakan bahwa untuk memperoleh nilai yang benar-benar menggambarkan hal sebenarnya dari anak, guru harus memenuhi prinsip-prinsip asesmen. Menurut Puckett dan Black dalam buku Suyanto (2005), asesmen yang diterapkan pada anak usia dini menggunakan beberapa prinsip, yaitu holistik, otentik, kontinu (berkesinambungan), individual, serta multisumber dan multikonteks.

Holistik didefinisikan bahwa pelaksanaan asesmen meliputi seluruh aspek perkembangan anak. Aspek perkembangan anak meliputi fisik-motorik, sosial, moral, emosional, intelektual, bahasa dan kreativitas. Guru harus mempertimbangkan pelaksanaan asesmen untuk semua aspek perkembangan yaitu fisik, sosial, emosional, dan kognitif.

Otentik adalah asesmen dilakukan melalui kegiatan yang rill, fungsional, dan alami dengan harapan hasil asesmen menggambarkan kemampuan anak yang sesungguhnya. Pengumpulan data harus dalam suasana yang natural dan otentik.

Kontinu berarti bahwa asesmen dilakukan secara terusmenerus, setiap saat ketika anak melakukan kegiatan belajar. Asesmen dapat dilakukan secara harian atau mingguan, menyesuaikan pandangan guru mengenai saat yang tepat bagi seorang anak untuk di asesmen kemampuannya. Individual dimaknai bahwa asesmen dilakukan untuk melihat perkembangan belajar masing-masing individu anak.

Asesmen dilaksanakan untuk mengungkap kelebihan, kelemahan dan kebutuhan setiap anak bukan untuk membandingkan perkembangan anak yang satu dengan yang lainnya. Multisumber dan Multikonteks adalah asesmen dilaksanakan pada berbagai konteks atau kegiatan. Contohnya, untuk melihat perkembangan motorik halus seorang anak, guru dapat melihatnya saat kegiatan meronce, mengecap, menggunting, mencocok dan lain sebagainya.

Morrison (2012) berpendapat bahwa pelaksanaan asesmen perkembangan belajar harus memiliki prinsip-prinsip sebagai berikut:

  1. Asesmen harus memberi manfaat bagi anak, asesmen harus memiliki manfaat langsung yang jelas kepada anak.
  2. Asesmen harus disesuaikan dengan tujuan tertentu dan harus dapat dipertanggung-jawabkan, benar, dan baik untuk tujuan tersebut.
  3. Kebijakan asesmen harus dirancang dengan kesadaran bahwa reliabilitas dan validitas asesmen meningkat seiring usia anak.
  4. Asesmen harus sesuai dengan usia anak dalam hal isi dan metode pengumpulan data, metode asesmen harus disesuaikan dengan hakikat anak usia dini.
  5. Orang tua harus menjadi sumber informasi asesmen, dan juga pendengar dari asesmen, hal ini ditujukan untuk mencegah kemungkinan kesalahan asesmen, asesmen harus mencakup banyak sumber bukti, terutama laporan dari orang tua dan guru.

Prinsip asesmen untuk mengasesmen perkembangan belajar anak, diantaranya adalah (Trianto, 2011):

  1. Berorientasi pada kompetensi, yaitu asesmen harus mampu menentukan apakah anak telah mencapai kompetensi yang dimaksud dalam kurikulum.
  2. Menyeluruh, yaitu asesmen hendaknya menilai anak secara menyeluruh mencakup semua aspek. Makna menyeluruh berarti juga bahwa asesmen harus dilakukan dengan memanfaatkan berbagai teknik untuk mengumpulkan berbagai bukti hasil belajar anak.
  3. Valid, yaitu asesmen harus dapat memberikan informasi yang akurat tentang hasil belajar anak.
  4. Adil dan terbuka, yaitu asesmen harus adil terhadap semua anak dan semua kriteria dan pengambilan keputusan harus jelas dan terbuka bagi semua pihak.
  5. Mendidik, yaitu asesmen merupakan penghargaan bagi anak yang berhasil dan sebagai pemicu bagi anak yang belum atau kurang berhasil.
  6. Berkesinambungan, yaitu asesmen hendaknya dilakukan secara terencana dan terus-menerus.
  7. Bermakna, yaitu asesmen yang dihasilkan diharapkan benar-benar menggambarkan perilaku yang sesungguhnya dari anak.

Berdasarkan pemaparan di atas, dapat disimpulkan bahwa prinsip asesmen perkembangan belajar adalah:

  1. Bermanfaat bagi anak
  2. Asesmen harus sesuai dengan tujuan pelaksanaan dan berorientasi pada kompetensi.
  3. Asesmen harus sesuai dengan umur dan indikator perkembangan anak.
  4. Pelaksanaan asesmen harus menyeluruh, valid, adil dan terbuka, mendidik, berkesinambungan dan bermakna.
  5. Orang tua harus menjadi sumber informasi dan pendengar dari asesmen.

Jenis-jenis asesmen informal meliputi catatan anekdot, Running Record, Speciment Record, Time sampling, Event sampling dan cheklist and rating scale (ceklis dan skala rating).

  1. Catatan Anekdot (Anecdot Record)

Catatan anekdot adalah deskripsi tertulis tentang prilaku anak merupakan catatan objektif tentang suatu peristiwa yang menceritakan apa yang terjadi kapan dan dimana. Catatan ini dapat digunakan untuk memahami beberapa aspek prilaku anak. orang tua atau guru dapat menggunakan menggunakan catatan anekdot untuk menelusuri perkembangan anak dalam rangka menjelaskan perilaku yang tidak biasa. Walaupun narasinya itu objektif namun dapat ditambahkan komentar sebagai penjelasan atau reaksi terhadap paeristiwa tersebut. Catatan anekdot memiliki lima karakteristik, (Goodwid & Driscoll 1980)

  1. Catatan merupakan Hasil observasi langsung
  2. Pada saat peristiwa terjadi langsung dicatat (Catatan yang bersifat akurat, segera dan spesifik) atas sebuah peristiwa
  3. Meliputi konteks perilaku
  4. Interpretasi terhadap peristiwa dicatat secara terpisah
  5. Fokus pada perilaku yang biasa atau tidak biasa pada anak yang diobservasi. 

Tabel 2.1

Contoh Catatan anekdot

Nama Siswa: Robby, Mary, Janie Umur : 4 Tahun Tempat : Sunny Side Preschool Observer : Sue Jenis Perkembangan yang di observasi : Sosial emosional
Peristiwa Catatan atau komentar
Mary dan Jamie berada di dapur berpura-pura akan mempersiapkan makanan, Robby datang dan berkata “Saya mau makan”. Anak-anak perempuan melihat Robby. Jannie berkata: “Kamu tidak boleh bermain disini, kami sedang sibuk”. Robby berdiri memperhatikan kedua anak perempuan yang sedang memindahkan buah-buah plastic diatas meja. Robby berkata : “Saya bisa menjadi ayah dan sama-sama menyiapkan makanan”. Mary berfikir sejenak melihat Janie dan menjawab “Oh baiklah, kamu bisa bermain”. Anak-anak perempuan itu sering bermain bersama dan cenderung enggan menerima orang lain dalam permainannya. Robby telah belajar bagaimana untuk masuk kedalam kelompok itu, dia berhati-hati untuk tidak membuat Marry dan Jenie marah, Mereka mengalah ketika Robby menawarkan. Robby biasanya berhasil diterima dalam aktivitas bermain. 

Guru dapat menggunakan catatan anekdot dikelas untuk mencatat orilaku yang diobservasi. Care Giver (Guru, ortu, Pengasuh, Dokter, Psikolog) yang ada di sekolah sebaiknya memegang buku harian atau kartu indeks tentang makan dan pola kesehatan atau perolehan keterampilan baru untuk diberitahukan kepada orang tua. Guru pra sekolah dapat menggunakan adress label untuk mencatat perubahan perilaku yang signifikan untuk ditempatkan di folder anak.

Contohnya seperti guru kelas satu dapat mencatat kebiasaan kerja sehari-hari seorang anak di dalam kelas untuk mencatat dan mendok kemampuan atau ketidakmampuan anak untuk fokus pada tugas, ketergantungan pada orang lain, atau peningkatan perilaku sosial anak.

  • Running Record (Catatan Berjalan)

Running Record adalah cara lain untuk mencatat perilaku. Catatan ini berupa narasi yang lebih detail dari perilaku anak yang mencakup urut-urutan peristiwa. Running record meliputi segala sesuatu (serangkaian peristiwa) yang terjadi pada suatu p tertentu dimana semua tingkah laku yang diobservas dibandingkan dengan catatan anekdot yang hanya mencatat sepenggal peristiwa. Deskripsi objekti Upaya mencatat segala sesuatu yang terjadi adiucapkan sela observasi dilakukan. Running record dapat mencatat pada suatu rentang waktu mulai dari beberapa menit sampai beberapa minggu atau observer memberikan komentar atau menganalisis perilaku secara terpisah setelah mempelajari catatan. Tugasnya adalah untuk membua gambaran situasi sehingga pembaca yang terjadi mendapatkan gambaran mengenai apa yang terjadi.

Tabel 2.2

Contoh Running Record

Nama siswa : Cristopher Umur : 4 Tahun Tempat : Sunny Side Preschool Waktu : 21 Juni 2008 Pukul 8.40-9.10 Observer : Perlita Jenis perkembangan yang di observasi : Sosial Kognitif
Observasi Catatan atau Komentar
Crist sedang memainkan mainan. Dia berkata Kelly, bolehkah ini untukku? beberapa kali sampai dia mendapatkan jawaban. Dia beralh dari mainan tadi ke gitar-gitaran dan memainkannya sambil memperhatikan anak-anak yang lain dengan berjalan mengelilingi ruangan. Dia menyuruh semuanya untuk duduk di meja masing-masing setelah guru memerintahkan itu.     Christ sopan terhadap yang lain    Crist membantu teman-temannya agar mengikuti aturan di kelas 
Chirst duduk disebelah temannya dan bercerita kalau dia makan Granola. Dia memperhatikan dan mendengarkan percakapan di sebelah kiri-kanannya. Dia tidak terpengaruh oleh ledakan teman-temannya. kegaduhan Kemudian dia mencoba untuk menjelaskan tingkah lakunya pada yang lain    Christ tertarik pada apa yang dibicarakan teman-temannya   Christ mencoba untuk membuat pengertian mengenai tingkah laku anak-anak   
Christ mengikuti petunjuk guru. Dia memutuskan untuk tetap merahasiakan apa yang dia dengar dari teman- temanya, sampai ada temannya yang mendorong supaya jangan dekat- dekat. Crist Berkata Aku bisa dengerjadi tidak patuh lagi pada gurunya sehingga dia harus duduk diluar lingkaran. Dia berjalan-jalan duduk lagi, kemudian berdiri dan masuk lagi ke dalam lingkaran tanpa sepenetahuan gurunya kamu kalau aku mau karena itu dia     Christ memilih cara yang tepat untuk mewujudkan keinginannya.
Crist menyimak pertanyaan-pertanyaan Christ menunjukan bahwa dia memiliki gurunya dan cerita yang sedang dibacakan. Dia memandang sekeliling pengendalian diri pada teman-temannya kemudian kembali melihat buku. Dia memainkan kaus kakinya dan ikut serta dalam tanya jawab yang berkaitan dengan cerita yang telah dibaca “Now one foot, Now the other foot” Dia terus mengerakkan tubuhnya selama cerita berlangsung. Sekarang dia benar-benar diam dan menyimak Christ merespon dan bersimpati pada cerita. Dia menutup telinganya ketika tokoh cerita teman-teman yang lain menanggapi cerita tersebut dengan berseru. Namun akhirnya dapun ikut berseru spt yang lain. Christ terdiam lagi. Semua anak dalam lingkaran diam menyimak cerita sampai berakhir.      Christ menunjukkan dia memiliki pengendalian diri     Christ merespon dan bersimpati pada tokoh cerita
Segera setelah cerita selesai, Christ berkata Tanganku tergores patahan semak” Dia duduk tanpa bersuara, namun tubuhnya bergerak-gerak “Bagaimana bisa pohon yang disebelah sana mat? Dla bertanya pada guru. (SEbuah pohon ditemukan sudah patah) Bukan aku…bukan aku.. “kata chist  

Running record dapat juga digunakan dalam hubungannya dengan asesmen kemampuan membaca.Ketika guru mengin untuk mendapatkan informasi mengenai kemampuan anak saat ini dan kelemahan dalam membaca, guru bisa saja mendengarkan anak membaca dan mencatat kesalahan serta mengoreksi ketika siswa membaca sebuah bacaan. Guru menandainya pada salinan bacaan yang sedang dibaca siswa, dengan menggunakanm etode yang sistematis dalam mengidentifikasi kesalahan seperti B dibaca D atau terbalik “ROGOB” atau dilewat. Sebagai alternatif, guru dapat menggunakan form terpisah running record dari semua bagian bacaan. Maksudnya untuk memimpin informal asesmen ketika anak membaca pada saat ‘itu.(sulzby, 1993)

Running Record dapat digunakan dalam pelajaran membaca. Guru dapat mengobservasi kemampuan oral reading anak ,dan menuliskan kata yang tidak dikktahuinya, perubahan kemahiran, atau kesulitan dalam pengucapan (Pronouncing) beberapa kata

Tabel 2.3

Contoh penggunaan running record

kemampuan membaca

Nama anak : Felicia Tanggal : 15 Desember 2008
Judul buku : menangkap kodok  
Halaman Strategi
  S ks A St V
√ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √          
√ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √          
√ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √          
√    √     √     √      √ Lompat/loncat√ √ √ √ √ p   1     ks
√    √    √    √   √   √   √ Lari/lari √  √  √  √  √  √ 1   s    
√ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √          
√ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √          

Keterangan : s (salah), ks (koreksi sendiri), A (arti), St (Struktur), V(Visual)

Catatan : X cek dengan petunjuk visual dan arti . ini buku yang mudah untuk felicia

Marie Clay (1993) mengembangkan running record yang baku untuk mendokumentasikan (mencatat atau merekam) bagaimana anak membaca dalam program perbaikan membaca. Dalam program ini yang didisain untuk mendeteksi dan mengoreksi masalah tahapan membaca lebih awal, cheklist untuk menandai kata-kata baca dengan benar. Tanda (-) digunakan untuk menandai kata-kata yang terlewati. Contoh diatas menunjukan adaptasi running record dan analisis kesalahan dan ketepatan membaca. Disebelah kiri dari halaman menunjukan masing-masing kata memiliki catatan dalam 7 halaman dari cerita. Kesalahan. Mengoreksi sendiri. dan strategi digunakan untuk mengidentifikasi kata-kata yang dicatat dalam kolom pada sebelah kanan halaman.(FieIds & Spangler, 2000)

  • Speclment Record

Speclment Record (Catatan lembaran contoh) sangat mirip dengan running record, ini bahkan lebih detail dan akurat. Beaty :1997 mendefinisikan running record adalah metode informal yang dipakai oleh guru-guru. SPECIMENT RECORD secara jelas dipakai oleh peneliti yang bukan bagian dari aktifitas kelas dan dikeluarkan dari anak-anak. Peneliti kemudian memberi code pada informasi. observasi untuk menganalisis temuan.

Contohnya SPECIMENT RECORD dipakai dalam studi Child care setting di Chicago. Sebagai bagian dari studi, observasi telah dipakai untuk menentukan prilaku care giver (orang tua, perawat, dokter, psikolog dst).

  • Time Sampling

Kegunaan dari time sampling adalah untuk mencatat frekuensi dari suatu prilaku dalam periode waktu yang ditentukan. Pengamat memutuskan lebih dulu untuk menentukan perilaku apa yang akan di observasi, berapa lama waktu yang digunakan dan bagaimana perilaku itu dicatat. Prilaku lain yang terjadi selama observasi diabaikan. Setelah sejumlah penarikan sampel selesai , data dipelajari untuk menentukan kapan dan mungkin mengapa prilaku itu terjadi.

Observer dapat menggunakan informasi untuk membantu anak jika menginginkan perubahan prilaku. Time sampling mungkin digunakan pada anak kecil. karena banyak prilaku mereka yang singkat. Dengan menggunakan time sampling, observer dapat memperoleh informas yang komprehensif tentang sebuah perilaku. Panjangnya observasi dipengaruhi oleh prilaku objek yang diobservasi, keakraban (familiar) anak dengan observer. situasi yang alamiah, dan anak yang akan diobservasi. (Webb.Campbell. Schwartz & Sechret, 1966).

Time Sampling sering digunakan oleh guru-guru atau staf sekolah yang lain ketika berprilaku menyimpang di sekolah, sebagai contoh seorang uyang berprilaku agresif kepada anak yang lain dan tidak kooperatif dalam kegiatan rutin di kelas dalam waktu tertentu. ini menggunakan sebagian dari waktu belajar ketika prilaku yang tidak diinginkan terjadi. Setelah time sampling dipelajari, guru akan menentukan apa yang dapat dilakukan untuk merubah perilaku anak.

Contoh Time Sampling yang dilakukan diluar 1am pelajaran: Oscar suka meledak dan menantang anak-anak kelas satu untuk berkelahi. Gurunya dapat protes dari guru-guru yang lain. Maka guru oscar memutuskan untuk mengamati berapa sering oscar berperilaku seperti itu pada saat istirahat. Diakhir istirahat guru mengevaluasi dan mendapatkan bahwa oscar melakukan perilaku tersebut sebanyak 5 kali selama waktu istirahat. Setelah melakukan observasi time recording setiap hari dalam seminggu. Mary (guru oscar) dan guru-guru yang lain menyipulkan bahwa oskar melakukan prilaku tersebut (Bulying) setiap hari dan membuat rencana untuk membimbing oscar agar mempunyai prilaku yang dapat diterima.

Tabel 2.2

Contoh time sampling sebagai salah satu

metode observasi

Nama siswa :Joanie Umur : 5 tahun Tempat preschool : sunny side tanggal : 21 juni 2008  pukul : 10.45-11.00 observer :perlita jenis perkembangan yang diobservasi : Joanie memiliki kesulitan menyelesaikan tugas
observasi Waktu Catatan atau komentar
Sentra seni : meninggalkan kegiatan mewarnai diatas meja tidak dapat diselesaikan 10.45 Beberapa perilaku joanie nampaknya diakibatkan oleh kesalahan dalam mengikuti prosedur penggunaan material
Perpustakaan : melihat buku dan mengembalikannya ke rak 10.50  
Sentra balok : frustasi dengan fuzzle, balok-balok di tinggalkannya diatas meja, lalu mengambil lego dari laci dan memainkannya. Ketika guru member isyarat untuk menghentikan permainan, joanie meninggalkan lego bloknya diatas meja dan bergabung dengan anak-anak lain. 10.55     11.00 Prilaku dengan puzzle sebagai akibat dari frustasi   Joanie membutuhkan bantuan dalam menyimpan kembali mainanya dengan cara diberi verbal rewards ketika dia bisa menyelesaikan tugas dan menyimpan kembali materialnya   Mendorong joanie untuk mendapatkan pertolongan pada material-material yang terlalu sulit untuknya agar tidak frustasi.
  • Event Sampling (Pengambilan Contoh Kejadian)

Event sampling digunakan selain time sampling ketika prilaku cenderung terjadi pada watu kondisi atau keadaan khuaus (Lebih memperhatikan) kejadiannya dan tidak perlu observasi periodik seperti time sampling). Event sampling biasanya digunakan untuk mencari sebab akibatnya. Observer menentukan kapan prilaku itu kemungkinan akan terjadi dan kemudian menunggu kejadian itu terjadi.

Tabel 2.3

Contoh : Event Sampling dengan analisa ABC( 5-5) untuk menginterpretasikan suatu kejadian

Nama : Tamika Umur : 4 tahun Lokasi : may’s child enrichment center Observer :marcy Jenis perkembangan yang di observasi : social – emosional Prilaku timika yang suka memukul  
Waktu Antecedent Event Perilaku Penyebab
2.41 Tamika dan Rossie sedang makan snack, Rossie mengambil sebagian kue Tamika Tamika memukul Rossie Rossie mengadu pada guru
3.20 John sedang melihat –lihat buku di perpustakaan pusat, Tamika meminta buku itu, tapi john menolak Tamika merebut buku tersebut dan memukul John John membalas pukulannya dan mengambil kembali buku tersebut. Tamika mengambil buku yang lain dan duduk

Event sampling ini adalah apabila perilaku itu tidak terjadi sehingga membuang waktu observer. Karena event sampling adalah tipe observasi sebab akibat, maka observer dapat mencari petunjuk yang dapat membantu untuk memecahkan masalah anak-anak (Beli & Low: 1977) menggunakan analisa ABC dengan kejadian yang teramati untuk memahami penyebab dari suatu prilaku

A adalah peristiwa antecedent (Anteoedent)

B adalah target prilaku sasaran (Behavior)

C adalah Peristiwa yang disebabkannya (Consequent Event)

Menggunakan analisa ABC dengan event sampling memungkinkan observer untuk mempelajari bagaimana mempelaiarl masalah yang terjadi pada anak. Karena event sampling digunakan untuk prilaku yang tidak pantas. Maka kegunaaan utamanya adalah untuk menentukan penyebab dari suatu prilaku dan menentukan masalahnya. Sebagai contoh. Shiella umur 4 tahun, seringkali mendekati gurunya di taman bermain karena dia tidak punya kegiatan.

Gurunya berasumsi bahwa shiella hanya ingin mendapatkan perhatian. hingga guru mengamati cara bermain shiella menggunakan proses ABC dan mendapatkan bahwa shiella mendekati gurunya setelah mendapat penolakan dari teman bermainnya. kemudian anak-anak yang lain mengira shiella mengadu pada gurunya, mereka merasa senang dengan kejadian itu. Dengan mengetahui penyebab kesulitan shiella dalam kelompok bermainnya. guru menyadari bahwa baik shiella maupun teman-temannya, perlu perubahan prilaku. Dan membantu shiella untuk mempelajari cara yang dapat diterima untuk menjadi bagian dari kelompok bermain. Saat yang sama anak-anak yang lain diarahkan untuk berinteraksi lebih positif dengan shiella.

Figur 5-6 : Format Observasi yang dapat digunakan untuk berbagai jenis observasi.

Bagan 2.1

Bagan 5-6 Contoh Formulir (Ringkasan dan prilaku penting dijabarkan dalam bentuk naratif)

Nama : Tanggal : Waktu : Tempat : Anak-anak yang diamati : Usia : Jenis perkembangan yang diamati : Jenis observasi yang dipakai : Tujuan observasi : Pertanyaan yang terjawab : Uraian observasi (anekdot, time sampling, running record, event sampling) : Ringkasan rekaman perilaku penting dan komentar :
  • Cheklist Dan Ratting Scale

Cheklist adalah suatu daftar urutan prilaku yang daitur dalam sistem kategori. Observer dapat menggunakan cheklist untuk menentukan apakah si anak menunjukan perilaku atau keterampilan yang ada pada list. Cheklist berguna ketika banyak perilaku yang akan diobservasi. Dapat digunakan juga dengan cepat dan mudah.

Ratting Scale memberikan alat untuk menentukan derajat dimana anak menunjukan suatu perilaku atau kualitas dari suatu prilaku. Setiap karakter di rangking dalam rangkaian yang memungkinkan observer dalam menentukan dimana posisi anak itu dalam skala. Ratting scale dapat membantu ketika guru perlu untuk mengevaluasi beragam prilaku disaat yang sama. Sebagai contoh, ratting scale dari keterampilan sosial dapat digunakan untuk mencatat perilaku sosial yang belum ditunjukan oleh anak dalam kaitannya dengan observasi permainan sosial.

Cheklis dari prilaku kerja independen (perilaku kerja mandiri) dapat digunakan selama observasi anak di dalam kelas untuk mengidentinkasi perilaku problematik seperti : Mencari perhatian atau kegiatan-kegiatan yang menyebabkan keterlambatan menyelesaikan tugas.

  • Audio Dan Video Tape

Merekam observasi dapat berguna untuk merekam aktifitas atau kejadian yang diobservasi. Audio tape berguna bagi para observer untuk merekam bahasa yang digunakan anak-anak supaya tidak perlu lagi mencatat apa yang anak-anak katakan. Selanjutnya rekaman dapat diulang untuk menganalisa percakapan anak-anak.

Video juga berguna untuk membantu memperluas observasi. Walaupun obsever dapat mencatat peristiwa-peristiwa penting selama observasi, rekaman video memberikan kesempatan untuk pembelajaran lebih lanjut dan analisa setelah oservasi selesai dilakukan. Video juga dapat membantu interpretasi dan analisa yang dilakukan oleh beberapa observer secara bersama-sama.

Daftar Pustaka

Anita Yus. 2011. Penilaian Perkembangan Belajar Taman Kanak-Kanak. Jakarta: Kencana.

Anita Yus. 2011. Model Pendidikan Anak Usia Dini. Jakarta: Kencana, Prenada Media Group.

Arifin Zainal. 2009. Evaluasi Pembelajaran. Bandung: PT Remaja Rosdakaraya.

Bonnie Campbell Hill & Cynthia Ruptic (1994). Practical aspects of authentic assessment: putting the pieces together. Christopher-Gordon Pub., Inc

Fridani Lara, dkk. 2011. Evaluasi Perkembangan Anak Usia Dini. Jakarta: Universitas Terbuka.

Kusaeri dan Suprananto, Pengukuran dan Penilaian Pendidikan, (Yogyakarta: Graha Ilmu 2012)

Morrison, GS. 2012. Dasar-dasar Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD). Jakarta : Indeks.

Mukminan. (2003). Pengembangan Silabus Matakuliah Pengajaran Mikro dan PPL berdasarkan KBK. Makalah Seminar dan Lokakarya. Yogyakarta: UPPL, UNY.

Mulyasa; 2012. Managemen PAUD. Bandung: Rosda Karya. h. 83.

Poerwanti, dkk. 2009. Asesmen Pembelajaran SD. Departemen Pendidikan Nasional. Jakarta.

Rasyid H., Mansyur & Suratno. 2012. Asesmen Perkembangan Anak Usia Dini. Yogyakarta : Gama Media.

Richard I Arends. 2008. Learning To Teach Belajar untuk Mengajar. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Slentz, Kristine L. & Suzanne Krogh. 2001. Early Childhood Development and Its Variations. London: Lawrence Erlbaum Associates.

Suharsimi Arikunto. 2009. Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara.

Suyanto. 2005. Konsep Dasar Anak Usia Dini. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional.

Trianto. (2011). Model-model pembelajaran inovatif berorientasi konstruktivitis. Jakarta:Prestasi Pustaka.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *