Konsep Kecerdasan Jamak Pada Anak Usia Dini

Kecerdasan merupakan sebuah kemampuan untuk menangkap situasi baru serta kemampuan untuk belajar dari pengalaman masa lalu seseorang. Kecerdasan bergantung pada konteks, tugas serta tuntutan yang diajukan oleh kehidupan kita, dan bukan tergantung pada nila IQ yang identik dengan perkembangan kognitif dan gelar perguruan tinggi atau reputasi bergengsi.

Intellegence (Kecerdasan) adalah kemampuan untuk memecahkan persoalan dan menghasilkan produk dalam suatu setting yang bermacam-macam dan dalam situasi nyata (Gardner; 1983;1993).

Multiple intelegencies = Kecerdasan Ganda meliputi;

  1. Kecerdasan Verbal-Linguistik (linguistic)

Kecerdasan verbal linguistic  adalah Kemampuan menggunakan kata secara dengan baik secara lisan (seperti pendongeng, pidato, atau politikus). Kemampuan ini termasuk kemampuan menggunakan sintaks atau struktur bahasa.[1]Kecerdasan verbal linguistic adalah kemampuan untuk menggunakan bahasa-bahasa termasuk bahasa ibu dan bahasa asing untuk mengekspresikan apa yang di dalam pikiran dan memahami orang lain. Kecerdasan linguisik disebut juga kecerdasan verbal karena mencakup kemampuan mengekspresikan diri secara lisan dan tertulis, serta kemapuan untuk menguasai bahasa asing.[2]

Seorang anak memiliki kecerdasan bahasa yang tinggi akan mampu menceritakan cerita dan adegan lelucon, menulis lebih baik dari antara yang lain yang memiliki usia yang sama, mempunyai memori tentang nama, tempat tanggal dan informasi lain lebih baik dari pada anak pada umumnya. Senang terhadap permainan kata, mempunyai baca buku, menghargai sajak dan permainan kata-kata, suka mendengar cerita tanpa melihat buku, mengkomunikasikan pikiran, perasaan dan ide-ide dengan baik, mendengarkan dan merespons bunyi-bunyi, irama, warna, berbagai kata-kata lisan.

Mereka juga suka mengajukan banyak pertanyaan, suka bicara, memiliki banyak kosa kata, suka membaca dan menulis, memahami fungsi bahasa, dapat berbicara tentang ketrampilan bahasa. Oleh karena itu, karir yang sesuai dengan orang yang memiliki kecerdasan verbal yang tnggi adalah penyair, wartawan (jurnalis), ilmuwan, novelis, pemain komedi, pengacara, penceramah, pelatih pemandu (guide), guru.

  • Kecerdasan Matematik  (Logical Mathematic)

Kecerdasan Matematik adalah kemampuan yang berkenaan dengan rangkaian alasan, mengenal pola-pola dan aturan. Kecerdasan ini merujuk pada kemampuan untuk mengeksplorasi pola-pola, kategori-kategori dan hubungan dengan memanipulasi objek atau symbol untuk melakuakan percobaan dengan cara yang terkontrol dan teratur (kezar, 2001). Kecerdasan matematika disebut juga kecerdasan logis dan penalaran karena merupakan dasar dalam memecahkan masalah dengan memahami prinsip-prinsip yang mendasari sistem kausal atau dapat memanipulasi bilangan kuantitas dan oprasi.

   Anak yang memiliki kecerdasan logis-matematis yang tinggi sangat menyukai bermain dengan bilangan dan menghitung, suka untuk diatur, baik dalam problem solving , mengenal pola-pola , menyukai permainan matematika, suka melakukan percobaan dengan cara yang logis, sangat teratur dalam tulisan tangan, mempunyai kemampuan untuk berfikir abstrak, suka teka-teki, selalu ingin mengetahui bagaimana sesuatu itu berjalan , terarah dalam kegiatan yang berdasarkan aturan, berfikir dengan konsep yang jelas. Penguatan dan pengembangan yang terarah terhadap kecerdasan matematika dapat mengarahkan karir seseorang menjadi guru matematika atau IPA yang memiliki kemampuan yang baik, ilmuwan, akuntan.

  • Kecerdasan Visual- spasial ( Spatial)

Kecerdasan visual spasial merupakan kecerdasan yang dikaitkan dengan bakat seni, khususnya seni lukis dan seni arsitektur. Kecerdasan visual spasial atau kecerdasan gambar atau kecerdasan pandang ruang didefenisiskan sebagai kemampuan mempresepsi dunia visual sapsial secara akurat serta mentransformasikan persepsi visual-spasial tersebut dalam berbagai bentuk. Kemampuan berfikir visual spasial merupakan kemampuan berfikir dalm bentuk visualisasi gambar dan bentuk tiga dimensi (sonawat and Gogri, 2008). 

Ada tiga kunci dalam mendefinisikan kecerdasan visual spasial yakni :

  1. Mempersiapkan yakni menangkap dan memahami sesuatu melalui panca indra,
    1. Visual-spasial terkait dalam kemampuan mata khususnya warna dan ruang
    1. Mentransformasikan yakni mengalih bentukkan hal yang ditangkap mata ke dalam bentuk wujud lain, misalnya melihat, mencermati, merekam, menginterpretasikan dalam pikiran lalu menuangkan rekaman dan interpretasi tersebut kedalm bentuk lukisan, sketsa kolase atau tulisan.

Komponen inti dari kecerdasan visual-spasial adalah kepekaan terhadap garis, warna, bentuk, ruang, keseimbangan, bayangan harmoni, pola hubungan antar unsur tersebut. Komponen lainnya adalah kemampuan membayangkan, mempresentasikan ide secara visual dan spasial, dan mengorientasikan secara tepat. Komponen inti dari kecerdasan visual spasial benar-benar bertumpu kepada ketajaman melihat dan ketelitian pengamatan.Karier yang sesuai dengan orang yang memiliki kecerdasan visual dapat diarahkan untuk menjadi arsitek, pelukis, pemahat dan photographer.         

  • Kecerdasan Jasmaniah-kinestetik (Bodily-kinesthetic)

Kecerdasan jasmaniah-kinestetik  adalah kemampuan untuk menggunakan seluruh tubuh dalam mengeksplorasi ide, perasaan dan menggunakan seluruh tubuh dalam mengekspresikan ide, perasaan dan menggunakan tangan untuk menghasilkan atau mentranspormasi sesuatu. Kecerdasan ini mencakup ketrampilan khusus seperti koordinasi keseimbangan, ketangkasan, kekuatan, fleksibilitas dan kecepatan. Kecerdasan ini juga meliputi ketramplan untuk mengontrol gerakan-gerakan tubuh dan kemampuan untuk memanipulasi objek (Sonawat and Gogri, 2008).

Kemampuan dan kecerdasan kinestetik bertumpu kepada kemampuan yang tinggi untuk mengembalikan gerak tubuh dan ketrampilan yang tinggi untuk menangani benda kecerdasan kinestetik memungkinkan manusia membangun hubungan yang penting antara pikiran dan tubuh, dengan demikian memungkinkan tubuh untuk memanupulasi objek dan menciptakan gerakan.

Dengan demikian kecerdasan kinestetik disebut juga kecerdasan olah tubuh karena dapat merngsang kemampuan seseorang dalam mengolah tubuh secara ahli, atau untuk mengekspresikan gagasan dan emosi melalui gerakan. Kemampuan yang seperti ini dapat kita amati pada anak yang pandai berolah raga, menari atau berdansa termasuk menangi suatu benda dengan cekatandan membuat sesuatu. Dengan demikian karakter yang pantas untuk ditekunioleh mereka yang memiliki kecerdasan kinestetik adalah menjadi penari, atlet, actor, pelatih, interpreter bahasa isyarat, ahl bedah dan artis.

  • Kecerdasan berirama musik ( musical intelligent)

Kecerdasan musik adalah kapasitas berfikir dalam musik untuk mampu mendengarkan pola-pola dan mengenal, serta mungkin memanipulasinya. Orang yang punya kecerdasan musik yang kuat, tidak saja mengingat musik dengan mudah mereka juga tidak dapat keluar dari pemikiran musik dan selalu hadir dimana-mana.

Kecerdasan musikal didefenisikan sebagai kemampuan menangani bentuk musik yang meliputI: kemampuan mempersepsi bentuk musikalseperti menangkap dan menikmati musik dan bunyi-bunyi yang berpola nada, kemampuan membedakan bentuk musik, seperti membedakan membandingkan ciri bunyi musik seperti mencipta dan memversikan musik dan kemampuan mengekspresikan bentuk musik seperti bernyanyi, bersenandung dan bersiul-siul (Syner, 1997).

Hal ini berarti, kecerdasan musical meliputi kemampuan mempersepsikan dan memahami, mencipta dan menyanyikan bentuk-bentuk musical. Para ahli mengakui bahwa musik merangsang aktivitaf kognitigf dalam otak dan mendorong kecerdasan.

Anak-anak yang memiliki kecerdasan musik yang tinggi mempunyai sensitivitas untuk mendengarkan pola-pola, bersenandung dan dapat memainkan sesuai dengahn irama, mampumembedakan bunyi-bunyi dan memiliki perasaan yang baik terhadap tangga nada, bergerak sesuai dengan irama, mengingat irama dan pola-pola bunyi dan memiliki perasaan yang baik terhadap tangga nada, bergerak sesuai dengan irama, mengingat irama dan pola-pola bunyi, mencari dan menikmati pengalaman musik, bermain dengan suara, sangat bagus dalam mengambil nada, mengingat melodi dan menyanyikannya, mempunyai suara merdu baik itu bernyanyi solo maupun paduan suara, sering mendengarkan musik, memainkan instrument musik, berbicara atau bergoyang mengikuti irama, dapat menegtuk meja atau destop sambil bekerja, menunjukan sensitivitas pada suara dalam ling kungan, member respon secara emosional pada musik yang mereka dengarkan. Dengan demikian, pengembangan karir ang sesuai dengan orag yang memiliki kecerdasan musik yang baik dapat menjadi musisi, pengamat misik, pencipta lagu, konduktor, dan pencipta lagu.

  • Kecerdasan intrapersonal

Kecerdsan intrapersonal dapat didefinsikan sebagai kemampuan memahami diri sendiri dan bertindak berdsarkan pemahaman tersebut. Komponen inti dari kecerdasan intrapersonal kemampuan memahami diri yang akurat meliputi kekuatan dan keterbatasan diri, kecerdasan akan suasana hati, maksud memotivasi, tempramen dan keinginan, serta kemampuan berdisiplin, memahami dan mengahargai. Kemampuan menghargai diri juga berarti mengetahui siapa dirinya, apa yang dapat dan ingin dilakukan, bagaimana reaksi diri terhadap situasi tertentu dan menyikapinya, serta kemampuan mengarahkan dan mengintropeksi diri. Kecerdasan intrapersonal merupakan kecerdasan dunia batin, kecersadan yang bersumber pada pemahaan diri secara menyeluruh guna menghadapi, merencanakan, dan memecahkan berbagai persoalan yang dihadapi.

Individu yang cerdas dalam intrapersonal memiliki beberapa indikator kecerdasan yaitu:

  1. Secara teratur meluangkan waktu sendiri untuk bermeditasi, merenung, dan memikirkan berbagai masalah
  2. Pernah atau sering menghadiri berbagai konseling atau seminar perkembagan keperibadian untuk lebih memahami diri sendiri
  3. Mampu menghadapi kemunduran, kegagalan, hambatan, dengan tabah.
  4. Memiiki hobi atau  minat dan kesenangan yang disimpan untuk diri sendiri.
  5. Memiliki tujuan-tujuan yang enting untuk hidup yang dipikirkan secara kontinyu
  6. Memiliki pandangan uang realistis mengenai kekuatan dan kelamahan diri yang diperoleh dari umpan balik sumber-sumber lain
  7. Lebih memilih menghsilkan ahir pekan sendiri di tempat-tempat pribadi dan jauh dari keramaian.
  8. Menganggap dirinya oran yang berkeinginan kuat dan berfikiran mandiri
  9. Memiliki buku harian untuk mengekspresikan perasaan, emosi diri, dan menuliskan pengalaman pribadi dan
  10. Memiliki keinginan untuk berusaha sendiri, berwiraswasta (Sonawat and Gogri, 2008)
  • Kecerdasan interpersonal

Kecerdsan interpersonal adalah kemampuan memahami pikiran, sikap, dan prilaku orang lain (Garner & Checkley, 1997:12). Kecerdasan ini merupakan kecerdasan dengan indikator-indikator yang menyenangkan bagi orang lain. Sikap-sikap yang ditunjukan oleh anak dalam kecerdasan interpersonal sangat menyejukan dan penuh kedamaian. Oleh karena itu, kecerdasan interpersonal dapat didefinisikan sebagai sebagai kemampuan mempersepsi dan membedakan suasana hati, aksud motivasi da keinginan, orang lain serta kemampuan memberikan respons secara tepat terhadap suasana hati, temperamen, motivasi dan keinginan orang lain. Dengan demikian kecerdasan interpersonal seorang anak dapat merasakan apa yang dirasakan orang lain, menangap maksud dan motivasi orang lain bertindak sesuatu, serta mampu memberikan tanggapan yang tepat sehingga orang lain merasa nyaman.

Komponen inti keerdasan interpersonal adalah kemampuan mencerna dan menanggapi dengan tepat berbagai suasana hati, maksud, motivasi, perasaan dan keinginan orang lain disamping kemampuan untuk melakukan kerjasama. Sedangkan komponen lainnya adalah kepekaan dan kemampuan menangkap perbedaan yang sangat halus terhadap maksud, motivasi, suasana hati, perasaan, dan gagasan orang lain. Mereka yang memiliki kecerdasan interpersonal sangat memerhatikan orang lain, memiliki kepekaan yang tinggi terhadap ekspresi wajah, suara dan gerak isyarat. Dengan kata lain, kecerdasan interpersonal  melibatkan banyak kecakapan, yakni kemampuan berempati kepada orang lain, kemampuan mengorganisasikan sekelompok orang menuju sesuatu tujuan bersama, kemampuan mengenali dan membaca pikiran orang lain, kemampuan berteman atau menjalin kontak.

Anak-anak yang berkembang pada kecerdasan interpersonal peka terhadap kebutuhan orang lain. Apa yang dimaksud, dirasakan, direncanakan dan diimpikan orang lain dapat ditangkap melalu pengamatannya terhadap kata-kata, gerak-gerik, gaya bahasa, dan sikap orang lain. Meraka akan bertanya member perhatian yang dibutuhkan.

Kemampuan untuk merasakan perasaan orang lain, mengabitkan anak yang berkembang dalam kecerdasan interpersonal mudah mendamaikan konflik. Kepekaan ini juga menghantarka mereka menjadi pemimpin diantara sebayanya. Bahkan anak yang memiliki kemampuan interpersonal yang baik dapat memahami keadaan jiwa, keinginan, dan perasaan yang dimiliki orang lain ketika berinteraksi dengan lingkungan sekitar. Denan demikian, membangun hubungan baik dengan pihak lain akan dapat dilakukan dengan mudah sehingga mampu menciptakan suasana kehidupan yang nyaman tanpa ada kendala berarti walau hidup di lingkungan yang memiliki agama, suku, ras, dan bahasa yang berbeda. Anak yang memiliki kecerdasan interpersonal sesuai untuk menjadi pendidik seperti guru atau dosen, konsultan, organisatoris, diplomat, peneliti, dan ilmuan sosial, aktivis, pemimpin agama, negosiator, mediator, dan semacamnya.

  • Kecerdasan Naturalistik

Kecerdasan naturalistik adalah kemampuan dalam melakukan kategorisasi dan membuat hierarki terhadap keadaan organisme seperti tumbuh-tumbuhan, binatang, dan alam. Salah satu cirri yang kuat pada anak-anak yang memiliki kecerdasan naturalistik adalah kesenangan mereka pada alam, binatang, misalnya berani mendekati, memegang, mengelus, bahkan memiliki naluri untuk memelihara. Kecerdasan naturalistik didefinisikan sebagai keahlian mengenali dan mengategorisasi spesies, baik flora maupun fauna, di lingkungan sekitar, dan kemampuannya mengolah dan memanfaatkan alam, serta melestarikannya.

Komponen inti kecerdasan naturalistik adalah kepekaan terhadap alam, (flora, fauna, formasi awan, gunung-gunung), keahlian membedakan anggota-anggota suatu spesies, mengenali eksistensi spesies lain, dan memetakan hubungan antara beberapa spesies baik secara formal maupun informal. Memelihara alam dan bahkan menjadi bagian dari alam itu sendiri bahkan menjunjung tempat-tempat uang banyak di huni binatang dan mampu mengetahui hubungan antara lingkungan dan alam merupakan suatu kecerdasan yang tinggi mengingat tidak semua orang dapat melakukannya dengan mudah (Bowles, 2008).

Komponen kecerdasan naturalistic lain adalah  perhatian dan minat mendalam terhadap alam, serta kecermatan menemui ciri-ciri spesies dan unsure alam yang lain. Anak-anak yang suka menyeldiki berbagai kehiduan mahluk kecil, seperti kucing, semut dan ulat daun. Anak-anak suka mengamati gundukan tanah, mengamati hewan yang bersembunyi, lalu menangkapnya. Anak-anak yang memiliki kecerdsan naturalistic tinggi kecenderungan menyukai alam terbuka, akrab dengan hewan peliharaan dan bahkan menghabiskan waktu mereka di dekat akuarium. Mereka mempunyai keingintahuan yang besar tentang seluk beluk hewan dan tumbuhan. Penembangan karir yang sesuai bagi anak yang memiliki kecerdasan naturalistic dapat diarahkan menjadi ilmua pertanian, ahli geologi, ahli biologi,astronot, ahli perikanan dan kelautan, petani, aktifis alam, pendaki gunung, dan berbagai komponen karir semacamnya.

  • Kecerdasan Eksistensial-Spiritual

Kecerdasan spiritual adalah kapasitas hidup manusia yang bersumber dari hati yang dalam (inner-capacity) yang terilhami dalam bentuk kodrat untuk dikembangkan dan ditumbuhkan dalam mengatasi berbagai kesulitan hidup. Pada prinsipnya, kecerdasan spiritual dapat dipahami sebagai proses integrasi atau keterpaduan antar fungsi belahan otak kiri dan kanan (Selman dan Selman, 2005). Jika memerhatikan fungsi belahan otak kiri dan kanan pada manusia, maka kecerdasan spiritual merupakan perpaduan dari kedua belahan tersebut.Jumlah siswa yang sedikit akan membutuhkan waktu yang banyak untuk mengingatkan mereka (dalam beberapa kecerdasan) untuk duduk, stop membuang sesuatu, diam sejenak dan memulai berperilaku. Meskipun multiple intelligences bukanlah jawaban yang magic untuk masalah mereka, ini dapat menyediakan konteks untuk memperlihatkan rentang sistem disiplin yang menunjukkan secara efektif dengan perilaku yang sulit. Secara alami, teori multiple intelligences memberitahukan bahwa “tidak ada satupun pendekatan disiplin yang paling bagus untuk seluruh anak”. Dalam faktanya teori ini memberitahukan jika guru membutuhkan untuk mempadu padankan pendekatan disiplin yang berbeda untuk pembelajar yang berbeda. Apa yang mengikuti kisaran metode disiplin yang cocok untuk kedelapan kecerdasan:

Strategi Multiple Intelligences untuk Mengatur Perilaku Individu

Kecerdasan Siswa Agresif Siswa Intropet Siswa Hyperactive
Linguistik Biblioterapi dalam tema managemen emosi Mengadakan Debat, pidato, dan bercerita Buku-buku bertema hyperactivity (Seperti The Boy Who Burned Too Brightly)
Logika-Matematis Logika Dreikurs-Sistem Konsekuensi Jaringan Komputer Interaktif, klub Catur dll Kuantifikasi waktu dalam tugas-tugas
Spasial Cara memvisualisasikan managemen konflik Memfilmkan anak Intropet bagaimana bergaul dengan temannya Video Games yang membantu perkembangan fokus dan kontrol siswa (neurofeedback)
Bodi-Kinestetik Aturan bermain tingkah laku agresif dan mencoba alternatif Memasangkan dengan orang yang dipercaya untuk berjalan, berolahraga, dan bermain games Relaksasi Progresif, yoga, hands on learning, dan latihan yang berat
Musikal Lagu-lagu promosi skill sosial Discografi mendorong hubungan dengan yang lain Musik stimulasi (Seperti Musical Ritalin)
Interpersonal Membuat kelompok seni bela diri Kelompok Bimbingan Aturan Kepemimpinan dalam kelompok cooperatif
Intrapersonal Time Out, Kontrak Bimbingan orang per orang /psychotherapy Latihan Fokus
Naturalist Identifikasi seekor binatang yang dapat mereka pelajari bagaimana menjinakkanya sendiri Menilai buku alam yang melibatkan persahabatan Bekerja di alam

[1] Thomas Amstrong. Multiple intelligents in the class room. (Virginia :ASCD, 2009). H. 6

[2] McKenzie ,2005. Dalam buku Pembelajaran Berbasis Multiple intelligences.  ( Jakarta : Dian Rakyat), h.14

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *